TABLOIDKUKAR.COM – Hari belum benar-benar terang ketika kecemasan mulai merayap di Dusun Tani Jaya, Desa Batuah. Bukan karena gempa atau banjir bandang, melainkan karena tanah perlahan-lahan mulai bergerak. Tanpa suara, tanpa peringatan.
Di sepanjang RT 25, terutama pada kawasan Kilometer 28 Jalan Poros Samarinda–Balikpapan, sejumlah rumah memperlihatkan gejala tak biasa. Retakan-retakan besar membelah dinding, lantai rumah tampak turun beberapa sentimeter, dan pintu-pintu tak lagi bisa tertutup rapat. “Tiap malam kami tidur dengan waswas, takut rumah tiba-tiba ambruk,” ujar salah satu warga.
Fenomena ini pertama kali disadari warga pada akhir April 2025. Hingga kini, sudah 11 rumah tercatat mengalami kerusakan serius. Sebagian bangunan bahkan mulai miring dan tak lagi aman ditinggali. Jalan lingkungan turut ambles, mempersulit mobilitas warga dan memperkuat dugaan bahwa ada masalah serius di bawah permukaan tanah.
Sejumlah warga mencurigai aktivitas hauling batu bara dan pengeboran air sebagai faktor penyebab. Getaran kendaraan berat dan penggunaan mesin di sekitar lokasi dinilai berperan dalam mengganggu kestabilan tanah. Guna memastikan dugaan ini, pemerintah desa menggandeng tim ahli dari Universitas Mulawarman.
“Sudah kami minta bantuan akademisi dari Unmul untuk meneliti langsung penyebabnya,” kata Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid.
Tim dari Laboratorium Geofisika Unmul, dipimpin oleh Piter Lepong, mulai melakukan pemetaan struktur bawah tanah dengan metode geolistrik. Hasil awalnya menunjukkan kondisi yang patut diwaspadai. Di bawah permukiman terdampak, ditemukan zona tanah jenuh air dengan resistivitas sangat rendah—indikasi bahwa tanah tersebut sangat rentan bergerak, terutama saat terjadi akumulasi air.
Piter menjelaskan bahwa zona ini diduga tersusun dari material lempung plastis atau endapan aluvial muda yang belum mengalami pemadatan sempurna. “Itulah mengapa bangunan di atasnya menjadi tak stabil. Fondasi rumah tak bisa menahan pergerakan lapisan di bawahnya,” jelasnya.
Merespons temuan tersebut, tim Unmul merekomendasikan penanganan dua tahap. Penanganan darurat meliputi pembuatan sistem drainase untuk mengurangi tekanan air tanah, penutupan rekahan tanah, serta penghentian sementara aktivitas pengeboran air oleh warga.
Untuk jangka panjang, disarankan dilakukan pengeboran investigatif dan pengujian laboratorium guna menyusun rencana konstruksi berbasis geoteknik. Pemerintah desa pun mulai memindahkan warga dari rumah yang dianggap rawan, meskipun beberapa masih memilih bertahan dekat rumah mereka.
“Kami sudah sampaikan bahwa bertahan di zona bahaya sama saja mempertaruhkan keselamatan. Tapi ada juga yang hanya mau pindah ke tenda di halaman rumah,” tutur Rasyid prihatin.
Tim ahli juga memberi peringatan tegas agar warga tak lagi menempati bagian rumah yang telah rusak parah. Retakan besar dan lantai yang melengkung adalah sinyal bahwa bangunan sudah tidak layak digunakan.
Kajian yang dilakukan ini menjadi langkah awal untuk memahami sepenuhnya fenomena pergerakan tanah di Dusun Tani Jaya. Namun, jika hasil lanjutan membuktikan bahwa kondisi ini tidak bisa diperbaiki, maka relokasi permanen mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang rasional.
Apa yang terjadi di Batuah menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Kadang, cukup tanah yang pelan-pelan bergeser untuk mengguncang seluruh kehidupan warga. (*)