TABLOIDKUKAR.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah akan mengkaji potensi dampak dari konflik bersenjata antara India dan Pakistan terhadap ekspor batu bara Indonesia. Kajian tersebut akan difokuskan pada apakah wilayah terdampak konflik turut menjadi tujuan utama ekspor energi nasional.
“Nanti kami akan melakukan kajian ya karena negara mereka kan besar juga. Jadi tujuan batu bara kita ini apakah kena di wilayah terdampak atau tidak,” ujar Bahlil usai menghadiri diskusi bertajuk Arah Kebijakan Geostrategi dan Geopolitik Indonesia di Jakarta, Kamis (8/5).
Ia mengibaratkan luasnya wilayah India seperti Papua, sehingga perlu pemetaan secara cermat mengenai potensi dampak konflik terhadap distribusi ekspor. “Jadi seperti di Papua lah. Ini kan Papua itu kan besar ya, sama juga seperti India,” katanya.
Sejauh ini, menurut Bahlil, belum ada pengaruh nyata terhadap sektor energi Indonesia, meski eskalasi konflik antara dua negara bertetangga itu mulai meningkat. “Sampai dengan hari ini perang antara Pakistan sama India belum ada pengaruh apa-apa terutama di sektor energi,” ucapnya.
Namun, Bahlil tidak menutup kemungkinan bahwa konflik tersebut bisa berdampak ke depan, terutama terhadap ekspor batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia. “Muncul lagi sekarang ketegangan di kawasan India dan Pakistan. Ini akan berdampak pada ekspor kita juga. Sedikit banyaknya akan berdampak pada ekspor kita, khususnya batu bara dan CPO,” ujarnya saat diskusi.
Ia berharap agar potensi dampak negatif dari konflik tersebut tidak sampai terjadi, sembari menyebut bahwa pihaknya sedang menyusun strategi antisipatif. “Mudah-mudahan ini tidak terjadi. Saya lagi mendesain,” ucap Bahlil.
Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas setelah pada Selasa malam (6/5), India dilaporkan menembakkan rudal ke sejumlah kota di Pakistan dan sebagian wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan.
Kedutaan Besar India di Jakarta dalam siaran pers menyampaikan bahwa serangan tersebut ditujukan secara spesifik pada kamp-kamp teroris yang sudah dikenal. “Tidak ada sasaran sipil, ekonomi, maupun militer Pakistan yang diserang. Hanya kamp-kamp teroris yang sudah dikenal yang menjadi target,” demikian pernyataan Kedubes India.
Mereka juga menegaskan bahwa tindakan itu bersifat terfokus, terukur, dan bertanggung jawab, serta dirancang agar tidak memicu eskalasi lebih lanjut. Ketegangan ini meningkat usai serangan pada 22 April di wilayah Jammu dan Kashmir yang dikuasai India yang menewaskan 26 orang (*)